PENGALAMAN SOLO TRAVELING KE SINGAPURA – PART 2

Pengalaman Solo Traveling Ke Singapura Part 2-Hari kedua saya memutuskan untuk bangun pagi dan sarapan. Berhubung ini hostel murah, saya sedikit khawatir ga kebagian sarapan pagi, hehe..eh tapi ternyata anggapan saya salah. Roti lengkap dengan meises, mentega dan selai masih tersedia melimpah dan minuman mau diisi ulang berkali-kali pun oke-oke aja. Saya tidak lupa mengisi botol air minum saya, karena lumayan juga lho kalo beli minuman dan makanan di Singapura harganya mahal-mahal euy.

Di hari ke-2 perjalanan Tempat Wisata di Singapura : tempatwisata.biz.id saya solo traveling ke Singapura dan untuk pertama kalinya ini, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan pagi (ceritanya sih pengen jogging, tapi pakai celana jeans haha) di sekitar Clarke Quey. Jalan dari hostel tempat saya menginap saya ketemu sebuah bangunan dengan jendela berwarna-warni. Saya baru tau setelah googling, bangunan ini dahulu bernama The Old Hill Street Police Station dan sekarang digunakan sebagai kantor MICA (Ministry of Information, Communications and the Arts). Bangunan ini memiliki sekitar 900 buah jendela, dengan bingkai berwarna-warni seperti pelangi wow…unik sekali menurut saya. Di belakang bangunan MICA terdapat Fort Canning Park. Bentuk taman yang berundak dengan tanaman hijau sepertinya asyik nih buat nongkrong pikir saya. Taman ini cukup sepi kala itu, hanya tampak beberapa orang sedang jogging dan berfoto. Serunya di taman ini saya mendapat informasi tentang sejarah Singapura yang dijelaskan lengkap mulai zaman kerajaan, pra-colonial hingga kemerdekaan. Informasi ini disajikan dalam 4 bahasa : Inggris, Melayu, Chinese dan Jepang. Ternyata dari sumber yang saya baca dahulu Singapura juga merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa lho. Kemudian saya menemukan sebuah rumah peristirahatan dan taman dengan kolam yang cantik bertuliskan Raffles Terrace. Sedikit berjalan kaki ke belakang taman, saya menemukan Hotel Fort Canning dengan bangunan bergaya klasik kolonial.

Bangunan The Old Hill Street Police Station yang sekarang menjadi kantor MICA dengan jendela berwarna-warni
Dahulu Singapura merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit, terbukti dengan penjelasan di monumen sejarah yang ada di Fort Canning Park

Puas berjalan-jalan di sekitar Fort Canning, saya melanjutkan perjalanan menyasarkan diri, hehe.. kali ini saya go show saja melihat obyek-obyek yang menurut saya menarik di depan mata. Kemudian saya menemukan gedung parlemen Singapura, jalan sedikit mengitari jembatan dan tepi sungai, sampailah saya di monumen Sir Thomas Stamford Raffles. Beliau terkenal sebagai bapak pendiri Singapura dan sempat menjadi gubernur Inggris di Indonesia pada masa kolonialisme. Pernah menjadi gubernur jenderal Bencoolen (sekarang: Bengkulu) dan diabadikan menjadi nama salah satu tanaman langka di dunia yaitu bunga Rafflesia arnoldii yang ditemukan di Bengkulu saat itu. Di sekitar monumen Raffles ini juga terdapat patung-patung yang menunjukkan aktivitas masyarakat Singapura masa lalu, seperti perdagangan dan transaksi jual beli.

Nampak pula bangunan Asian Civilisations Museum Mustafa Centre Singapore. Di depan bangunan terlihat patung wajah tokoh-tokoh besar seperti Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru lalu ada juga bapak pendiri Vietnam Ho Chi Minh. Di seberang Asian Civilisations Museum tampak gedung The Fullerton Hotel. Setelah melewati Cavenagh Bridge, saya melihat patung sekumpulan bocah laki-laki yang hendak melompat ke sungai untuk bermain atau terkenal dengan “The First Generation” karya Chong Fah Cheong. Patung ini termasuk patung yang unik dan paling banyak menyita perhatian pengunjung ketika melewatinya. Hampir setiap turis yang lewat menyempatkan diri untuk berfoto di sekitar patung ini.

Selanjutnya saya berjalan mengitari Hotel Fullerton untuk menuju patung kepala singa berbadan ikan yang menyemburkan air dari mulutnya. Patung merlion ini menjadi ikon wajib untuk dikunjungi jika pergi ke Singapura. Katanya sih belum afdhol kalo belum berfoto di sini, hehe.. dan di siang yang cukup terik itu saya menyempatan diri mengabadikan foto di sana. Kondisi saat itu cukup ramai oleh wisatawan sehingga saya kesulitan untuk memfoto patung merlion ini seolah-olah suasananya sepi dan fokus hanya pada patungnya saja.

Nah dari kejauhan saya melihat bangunan Esplanade yang berbentuk seperti buah durian. Kok lucu ya?pikir saya. Akhirnya saya lanjut deh jalan kaki kesana. Selanjutnya setelah muter-muter di dalam gedung Esplanade, saya naik MRT menuju Botanic Gardens yang cukup jauh tempatnya. Untungnya MRT Esplanade dan Botanic Gardens sama-sama berada di jalur kuning. Jadi walaupun sedikit jauh tempatnya dan memutar, saya tidak perlu ganti MRT. Harus naik MRT dari Esplanade yang jurusan akhir menuju ke HarbourFront supaya tidak usah ganti-ganti MRT ke Botanic Gardens.

Akhirnya sampai juga ke Botanic Gardens. Taman ini cukup luas dan terdiri dari bermacam-macam taman yang lebih spesifik. Saya mengincar National Orchid Garden atau taman anggrek nasional Singapura yang terkenal indah dan cantik itu seperti nama saya, ehem…haha. ternyata Bulan Terbaik Liburan Ke Singapura dari depan pintu gerbang Botanic Gardens menuju National Orchid Garden lumayan jauh juga jika berjalan kaki dan jalannyapun berbukit-bukit serta menanjak. Untung saya membawa botol air minum dengan persediaan cukup banyak. Pemandangan taman dan rumput-rumput hijau bikin segar di mata sehingga membuat perjalanan menuju National Orchid Garden sangat menyenangkan. Sayangnya saya datang sendiri ke taman ini. Sebetulnya taman ini sangat cocok untuk dinikmati bersama keluarga atau teman-teman, terbukti terlihat banyak sekali keluarga yang sedang berpiknik di taman-taman Botanic Gardens ini. Rasa capek saya setelah berjalan ternyata terbayar. Terbukti masuk di kawasan National Orchid Garden, mata saya langsung dimanjakan dengan berbagai macam bunga anggrek yang berwarna-warni dan sangat cantik. Terdapat pula area photo spot yang menjadi incaran pengunjung untuk berfoto ria. Area ini dihiasi dengan bermacam-macam tanaman anggrek.

Sekitar 1 jam kemudian akhirnya saya harus berpisah dengan anggrek-anggrek cantik itu dan melanjutkan eksplorasi saya. Tujuan saya berikutnya adalah Singapore City Gallery. Seorang teman lulusan arsitektur memberi saya rekomendasi bahwa ini tempat yang wajib saya kunjungi ketika ke Singapura. Memang tidak sepopuler tempat wisata lainnya, tetapi saya sungguh tidak menyesal datang ke sini. Turun di stasiun MRT Tanjong Pagar, saya langsung dapat melihat papan penunjuk arah menuju Singapore City Gallery dan ada pula Red Dot Design Museum. Wah, kebetulan nih dapat dua tempat eksplorasi sekaligus pikir saya.

Menuju Singapore City Gallery saya melewati bangunan Red Dot Traffic yang unik. Bangunan ini keseluruhannya berwarna merah, mirip dengan kompleks bangunan merah yang ada di Melaka, Malaysia. Berjalan kaki menyusuri Maxwell Road, akhirnya sampailah saya di Singapore City Gallery atau The URA Centre (Urban Redevelopment Authority). Dari luar saya disambut dengan instalasi patung yang sangat artistik. Di lantai 1 saya bisa melihat berbagai buku-buku arsitektur yang pasti bikin mupeng setiap anak arsitek kalau kemari. Well, saya saja yang bukan arsitek bisa mupeng kok, hiks… Yang membuat saya takjub adalah setiap planning pembangunan di setiap daerah di Singapura terdokumentasi dengan sangat baik. Bahkan saya bisa melihat “street block plans” mulai tahun 1991-2000. Ga heran kalau kita berkunjung ke Singapura, kita akan merasakan atmosfer di setiap kawasannya tertata sangat rapi dan terencana. Saya juga salut dengan pemerintah Singapura yang menetapkan daerah-daerah konservasi dengan sangat baik. Ternyata misi dari pemerintah Singapura saat ini adalah “to make Singapore a great city to live, work and play in”. Wow…saya salut sekali. Di lantai satu ini saya juga bisa melihat maket Singapura saat ini dan rencana pembangunan kedepan. Di lantai selanjutnya saya dapat melihat perkembangan penataan negara Singapura dari tahun ke tahun. Mulai dari era 50an di jaman post-war period, lalu di tahun 60an pemerintah mentemakan “housing the nation”, di tahun 70an ada program “urban renewal” atau dimulai gerakan pembangunan modern infrasructure, tahun 80an “providing a quality living environment”, memasuki era 90an pemerintah mencanangkan “more choices for housing and jobs” dan akhirnya di era 2000an ini misi pembangunan yang diterapkan Pemerintah Singapura adalah menjadikan Singapura “A great city to live, work and play in”. Wah, saya benar-benar salut dengan pembangunan yang terencana ini. Rekomendasi 26 Tempat Wisata Terbaik di Singapura Saya juga terkagum-kagum dengan metode “waste & water management” di Singapura. Semua informasi ini sangat berharga dan saya sungguh bersyukur mendapat pengalaman dan pengetahuan ini.

 

Selesai terkagum-kagum di URA Centre, saya balik arah ke Red Dot Museum, karena tadi cuma lewat aja ga sempat masuk hehe… berhubung hari masih panjang, saya menyempatkan diri masuk ke bangunan merah tersebut. Terdapat instalasi-instalasi seni di dalamnya dan souvenir shop. Saya singkat saja masuk dan foto-foto di dalam, karena saya masih mengincar untuk pergi ke SAM/Singapore Art Museum. Hahaha, jadwal yang padat dan “kemaruk” ini memang membuat kaki gempor, tapi berhubung saya suka banget dengan hal-hal berbau arts saya tetap semangat untuk melanjutkan perjalanan. Oia, sebelum naik MRT kembali ke stasiun Tanjong Pagar, saya melewati bangunan Maxwell Chambers. Bangunan ini bersama dengan Red Dot Building menjadi salah satu dari Architectural Heritage dan mendapat awards di tahun 2012. Saya suka sekali dengan motto yang ada di plakat awards tersebut “our heritage is in our hands”. Satu hal yang saya kagumi ketika bangunan modern dan heritage Menikmati Wisata Kuliner Makanan Kaki Lima di Singapura dapat saling bersinergi tanpa harus melenyapkan nilai-nilai sejarahnya seperti yang ada di Singapura ini.

Melanjutkan perjalanan ke SAM (Singapore Art Museum) adalah salah satu bucket list saya selama berada di Singapura. Bangunan ini dahulu merupakan sebuah chapel dan sampai saat ini keunikan dan kecantikan dari bangunan itu masih terjaga. Di luar pekarangan bangunan bergaya kolonial ini terdapat instalasi seni yang cukup unik. Memasuki bangunan di lantai 1, lantai keramik masih dibiarkan sesuai aslinya, bermotif mozaik, kuno, berwarna-warni dan sangat unik. Ketika masuk, pengunjung akan mendapat peta untuk dapat menyaksikan seni yang terpajang di setiap ruangan. Terdapat 3 level bangunan yang semuanya menampilkan tema instalasi seni yang berbeda-beda. Selain itu masih ada ruangan chapel yang indah. Di dalam bangunan SAM juga terdapat taman dengan kolam yang menyegarkan. Selain itu untuk pengunjung yang lapar dapat bersantap di kafe yang unik di sekitar SAM.

Saking keasyikannya lihat instalasi seni di SAM sampai sore, saya harus segera buru-buru nih, karena saya janjian dengan teman saya yang ada di Singapura untuk nonton pertunjukan “Song of the Sea” di Sentosa Island. Teman saya ini sangat baik hati dan dia berprofesi sebagai guru musik di Singapura. Kami ketemu cukup singkat ketika saya di Jakarta, namun saya ga ngira dia masih ingat saya dan dengan sangat welcome menawari saya untuk nonton “Song of the Sea” bersama. Wah, sampai terharu… untuk nonton pertunjukan ini, kami sepakat untuk janjian ketemu di Vivo City salah satu mall di Singapura sebelum menyebrang ke Sentosa Island. Dari stasiun Tanjong Pagar, saya naik MRT hingga ke Outram Park, stasiun MRT persilangan rute hijau-ungu. Lalu saya melanjutkan naik MRT rute ungu ke HarbourFront.

Pas ketemu dengan teman saya di foodcourt VivoCity, dia mentraktir saya makanan, wah saya sampai ga enak, apalagi tiket nonton “song of the sea” nya juga dibayarin, aduh baik banget yah. Pas nyebrang ke Sentosa Island dan sebelum nonton, kami pun sempat membeli snack roti srikaya untuk pengganjal perut. Akhirnya tibalah saatnya nonton pertunjukan “song of the sea”. Pertunjukan ini ditampillkan dalam bentuk teater musikal di tepi pantai dengan suasana outdoor yang menyegarkan. Pertunjukan ini hanya berlangsung malam hari karena salah satu keunikan pertunjukan ini adalah permainan sinar laser berwarna-warni yang ditembakkan/dibiaskan ke air mancur sehingga membentuk gambar-gambar tokoh kartun dan wajah manusia. Bahkan di akhir pertunjukannya dapat terlihat foto wajah seorang wanita cantik yang ceritanya menjadi putri/tokoh dalam drama musikal “song of the sea” tersebut.

 

Selesai menonton pertunjukan “song of the sea”, saya langsung pamitan dengan teman saya karena hari sudah semakin malam. Saya takut juga sih kalo kemaleman dan ga bisa naik MRT pulang, selain itu agak takut juga kalo jalan-jalan sendiri sampe malem, hehe… Begitu sampai di stasiun MRT Clarke Quay hari sudah cukup malam dan stasiunnya sepi, hiii…saya berjalan cepat-cepat dan setengah berlari hehe. Alhamdulillah akhirnya saya sampai di hostel dengan selamat. Saya lihat beberapa penghuni female dorm tempat saya menginap sudah pada tidur, jadi saya jalan berjingkat-jingkat agar tidak berisik. Setelah mandi, saya pun merebahkan diri di capsule saya dan langsung terlelap.

Keesokan paginya saya mandi dan sarapan pagi lebih awal dari biasanya. Hari ini adalah hari terakhir wisata saya di Singapura. Walaupun hari ini penerbangan saya pulang pukul 10.00 waktu setempat, saya mempersiapkan diri lebih awal buat jaga-jaga. Sesampainya di Bandara Changi dan sambil menunggu boarding, saya manfaatkan sedikit uang dolar Singapura yang tersisa untuk belanja. Saya jarang berbelanja heboh, jadi mungkin saya pikir tidak apa-apa lah untuk membeli sedikit cokelat buat teman-teman di Indonesia dan kantong kamera serta charger kamera sebagai peralatan dokumentasi traveling selanjutnya. Alhamdulillah, perjalanan saya solo travelling ke Singapura sukses besar (menurut saya) hehe… saya cukup puas dan bahagia bisa mengeksplor Singapura dan mendapatkan pengalaman yang luar biasa ini Pengalaman Solo Traveling Ke Singapura Part 2.

Selengkapnya http://wibialwisuryakuncoro.students.uii.ac.id/2017/08/10/8-obyek-wisata-pilihan-di-singapura/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s